VibeMalam melihat Kota Lama Semarang sebagai salah satu kawasan yang sedang punya momentum besar pada September 2026. Pemerintah Kota Semarang memperpanjang Festival Kota Lama hingga 20 September agar peserta dan tamu MTQ Nasional XXXI memiliki kesempatan menikmati kawasan heritage, pertunjukan seni, kuliner, dan suasana kota selepas sore. Perpanjangan itu membuat aktivitas di Kota Lama berlangsung lebih panjang daripada jadwal awal.
Festival Berjalan Lebih Panjang
Festival Kota Lama dimulai pada 4 September. Awalnya, sejumlah agenda utama berpusat pada pekan pertama hingga pertengahan bulan. Pemkot kemudian meminta panitia memperpanjang rangkaian kegiatan karena Semarang juga menjadi tuan rumah MTQ Nasional.
Keputusan tersebut bukan hanya soal menambah hari acara. Ribuan peserta, pendamping, pejabat, dan tamu datang ke Semarang sehingga kawasan wisata mendapat peluang menerima pengunjung baru. Kota Lama menjadi salah satu titik yang cocok karena menawarkan sejarah, arsitektur, kuliner, dan ruang publik dalam satu area.
Rangkaian festival mencakup Pasar Malam Sentiling, pertunjukan musik dan tari jalanan, Rijsttafel Dinner, Gowes Semarang Heritage, kegiatan catur, Living Book, hingga pertunjukan budaya. Agenda akhir festival juga menghadirkan Festival Folklore dan pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya.
Kota Lama Lebih Menarik Saat Sore hingga Malam
Karakter Kota Lama membuat kawasan ini berbeda ketika matahari mulai turun. Gedung tua, jalan pedestrian, pencahayaan bangunan, kafe, restoran, dan ruang terbuka menghadirkan suasana yang tidak sama dengan kunjungan siang hari.
Festival memperkuat karakter tersebut dengan aktivitas yang mendorong orang berjalan dari satu titik menuju titik lain. Pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto di depan Gereja Blenduk atau bangunan kolonial, tetapi juga dapat berhenti menikmati makanan, pertunjukan, pameran, maupun aktivitas komunitas.
Bagi kawasan heritage, pola seperti ini penting. Semakin lama pengunjung berada di satu kawasan, semakin besar peluang usaha kuliner, suvenir, kafe, fotografer, dan pelaku ekonomi kreatif mendapat manfaat.
DPRD Kota Semarang juga menilai Festival Kota Lama mempunyai peran strategis untuk menghubungkan pelestarian sejarah dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemerintah daerah berharap keterlibatan komunitas serta pelaku usaha lokal terus meningkat.
Wayang Turun Langsung ke Jalan
Salah satu agenda yang menarik perhatian berlangsung Minggu, 13 September 2026. Pertunjukan Wayang on The Street akan memakai ruang di kawasan Kota Lama mulai pukul 18.00 WIB.
Pemkot sampai menyiapkan pengalihan lalu lintas selama acara berlangsung. Pengendara mendapat imbauan memilih rute alternatif dan mengikuti petunjuk petugas di lapangan.
Format pertunjukan jalanan membuat seni tradisional terasa lebih dekat. Orang yang awalnya hanya ingin makan malam atau berjalan santai dapat bertemu pertunjukan tanpa harus masuk gedung kesenian.
Konsep ini juga cocok dengan karakter Kota Lama sebagai ruang pertemuan. Kawasan bersejarah tetap mempertahankan bangunannya, tetapi aktivitas di dalamnya berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat saat ini.
MTQ Membuat Semarang Semakin Ramai
Festival berlangsung bersamaan dengan rangkaian MTQ Nasional XXXI. Agenda resmi MTQ mencakup pawai, pembukaan, perlombaan di berbagai venue, bazar, expo kaligrafi, Halal Food Festival, Festival Rebana, hingga kegiatan pendukung lainnya.
Kondisi ini membuat pilihan aktivitas malam tidak hanya terpusat di Kota Lama. Simpang Lima, Taman Budaya Raden Saleh, serta beberapa titik lain ikut menerima arus peserta dan pengunjung.
Semarang bahkan melakukan sejumlah penyesuaian. Car Free Day pada 13 dan 20 September sementara ditiadakan untuk mendukung kelancaran mobilitas selama kegiatan nasional. Layanan Bus Wisata Kota Semarang juga berhenti melayani masyarakat umum pada 11–20 September karena armadanya membantu penyelenggaraan MTQ.
Karena itu, wisatawan yang ingin datang ke Kota Lama sebaiknya memperhatikan perubahan lalu lintas dan transportasi selama periode tersebut.
Pasar Malam Jadi Bagian Penting
Pasar Malam Sentiling menjadi salah satu acara yang mudah dinikmati tanpa perlu mengikuti jadwal pertunjukan tertentu. Konsepnya menyatukan makanan, aktivitas komunitas, produk kreatif, dan suasana malam.
Format pasar malam modern memang semakin relevan karena tidak hanya menawarkan jajanan. Pengunjung mencari pengalaman yang dapat dinikmati bersama teman atau keluarga, termasuk musik, produk lokal, dekorasi, serta tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu.
Kota Lama mempunyai keuntungan karena suasana tersebut sudah terbentuk melalui arsitekturnya. Festival tinggal mengisi ruang dengan kegiatan tanpa perlu membuat kawasan kehilangan identitas historisnya.
Kawasan Heritage Tidak Harus Sepi Malam Hari
Perkembangan Kota Lama menunjukkan kawasan sejarah dapat tetap hidup setelah jam kerja tanpa berubah menjadi pusat hiburan malam konvensional.
Orang dapat datang untuk makan, berjalan santai, menonton pertunjukan, berburu foto, membeli produk UMKM, atau sekadar menikmati bangunan dengan pencahayaan malam. Variasi itu membuat audiensnya juga lebih luas.
Namun, pertumbuhan aktivitas tetap membutuhkan pengelolaan. Sampah, parkir, arus kendaraan, kenyamanan pejalan kaki, keamanan, serta perlindungan bangunan heritage harus berjalan bersama peningkatan jumlah pengunjung.
Festival yang berhasil bukan hanya festival yang ramai, tetapi juga mampu membuat warga, pelaku usaha, komunitas, dan pengunjung sama-sama mendapat manfaat.
Perpanjangan Festival Kota Lama hingga 20 September memberi Semarang kesempatan menunjukkan bahwa kehidupan malam kota tidak selalu identik dengan klub atau pesta. Kawasan sejarah, kuliner, seni, dan ruang publik dapat menghasilkan vibe malam yang sama menariknya.
